Kata “Rajab” berasal dari bahasa Arab yang berarti “Agung”. Diberikannya kata Rajab pada bulan itu karena bangsa Arab menghormati dan mengagungkannya, sampai-sampai pintu Ka’bah dibukakan oleh para petugasnya selama satu bulan penuh selama bulan Rajab, padahal dilain bulan hanya dibuka tiap hari Senin dan Kamis. Orang-orang Arab berkata bahwa bulan Rajab adalah bulan Allah, Ka’bah adalah rumah Allah, dan orang muslim adalah hamba Allah, maka tidak dilarang hamba Allah memasuki rumah Allah didalam bulan Allah.
Dikatakan bahwa kata “Rajab” terdiri dari tiga huruf “Ra” menunjukkan rahmat Allah, “Ja” menunjukkan dosa dan maksiat hambanya, dan “Ba” menunjukkan barakahnya Allah, seakan-akan Allah berfirman:
“Hai hambaku! Aku telah menempatkan dosa dan maksiatmu diantara barokah dan rahmatKu, maka tidak akan dicata lagi bagimu dosa atau maksiat karena kehormatan bulan Rajab”. (Majalisul-Abrar)
Diceritakan bahwa bulan Rajab sesudah berakhir naiklah ia ke langit dan ditanya oleh Allah: “Apakah ia mencintaimu dan menghormatimu?” Lalu berkata si Rajab setelah Allah mengulangi pertanyaanNya yang kedua dan ketiga kalinya: “Ya Tuhanku! Engkaulah penutup segala aib dan memerintahkan hambaMu menutupi aib sesanya. RasulMu memberi julukan tuli padaku. Aku telah mendengar taat dan ibadah hamba-hambamu dan tidak mendengar maksiatnya”. Kemudian Allah SWT berfirman: “Engkau adalah bulanKu beraib dan hamba-hambaKu pula beraib. Aku telah terima mereka dengan segala aib-aibnya demi kehormatanMu sebagaimana Aku telah menerimamu dan aibmu dan dengan satu penyesalan Aku telah mengampuni mereka dan tidak mencatat maksiat-maksiatnya”.
Dikatakan bahwa bulan Rajab adalah bulan TULI, karena dalam bulan itu para malaikat yang bertugas mencatat amal-amal manusia, hanya mencatat amal-amal kebajikan dan tidaklah mencatat kejahatan dan maksiat berlainan dengan lain-lain bulan dimana kebajikan dan kejahatan dicatat bersamaan. Karena dalam bulan Rajab mereka tidaklah mendengar kejahatan atau maksiat yang dicatat. (Misykatul-Anwar)
Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Barang siapa bangun malam untuk ibadah pada malam pertama di bulan Rajab tidak akan mati hatinya jika hati-hati lain mati dan Allah menuangkan kebajikan di atas kepalanya, bebas dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya dan memberi syafaat kepada tujuh puluh ribu ahli maksiat yang sudah patut masuk neraka”. (Lubbul Albab)
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda:
“Barang siapa di suatu malam dari bulan Rajab bersembahyang dua puluh rakaat dengan membaca tiap-tiap rakaat surat Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas dan bersalam duapuluh kali, oleh Allah akan dilindungi dia dan keluarga serta anak-anaknya dari bala’ di dunia dan adzab di akherat”. (Zubdah)
Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya belan Rajab adalah bulan Allah yang tuli. Barang siapa dalam bulan itu berpuasa sehari penuh dengan penuh iman dan ikhlas, patut memperoleh ridha Allah yang terbesar dan barang siapa berpuasa dua hari tidak dapat digambarkan oleh langit dan bumi kemuliaan apa yang tersedia baginya di sisi Tuhan, dan barang siapa berpuasa tiga hari diselamatkan dari segala bala’ di dunia dan adzab di akherat dan dari penyakit gila, kusta, sopak dan dari fitnahnya Dajjal, dan siapa berpuasa tujuh hari tertutup baginya tujuh pintu neraka dan siapa berpuasa delapan hari terbuka baginya delapan pintu surga dan siapa berpuasa sepuluh hari segala apa yang diminta Allah akan memberinya dan siapa berpuasa limabelas hari diampuni oleh Allah segala dosanya yang telah lalu dan digantinya dengan kebajikan dan barang siapa menambah akan ditambahkannya pahala baginya oleh Allah”.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. bahwa Rosulullah bersabda:
“Selain bulan Ramadhan tidak ada puasa kecuali bulan Rajab dan Sya’ban”.
Menurut riwayat Buchari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya di surga ada suatu sungai bernama “Rajab”, warnanya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis dari madu. Brang siapa berpuasa sehari dalam bulan Rajab akan diberi minum oleh Allah dari sungai itu”.
Diriwayatkan bahwa Sayidian Abubakar ra. berkata:
Jika sepertiga malam telah lewat pada hari Jumat pertama dibulan Rajab, maka berkumpullah di Ka’bah semua malaikat yang berada di langit maupun di bumi dengan tiada ada yang ketinggalan. Disitu mereka dipandang oleh Allah dan mendengarkan firmanNya: “Hai MalaikatKu! Mintalah sesukamu!” “Ya Tuhan kami!, berkata para malaikat, “Permintaan kami ialah bahwa Tuhan mengampuni orang-orang yang berpuasa di bulanRajab”. “Aku telah mengampuni mereka”jawab Tuhan.
Pembaca yang budiman, bulan Rajab adalah bulan Allah. Maka marilah kita berlomba-lomba mendekatkan diri kepadaNya karena bulan ini adalah bulan yang agung nan mulia dimana Allah memberi banyak keistimewaan bagi hamba-hambaNya yang dengan penuh ikhlas menjalankan segala ibadah di bulan ini, yakni dengan menjalankan ibadah sunnah, berpuasa dan sholat di sepertiga malam terakhir. Demikian artikel ini semoga bermanfaat bagi kita dan mendapat syafa’at dari Allah .
_________
Penulis menghaturkan beribu-ribu terima kasih kepada:
Ibuku, Lutfiyah, yang telah banyak menghadiahi buku-buku Islami yang dahsyat dan menggetarkan jiwa .
H. M Arifin Madjid, S.H, juru dakwah masjid Tembok Indah Pasuruan, yang telah memberi banyak masukan dan referensi melaului kajian-kajiannya sehingga memperkaya pengetahuan keislaman penulis.
Dikatakan bahwa kata “Rajab” terdiri dari tiga huruf “Ra” menunjukkan rahmat Allah, “Ja” menunjukkan dosa dan maksiat hambanya, dan “Ba” menunjukkan barakahnya Allah, seakan-akan Allah berfirman:
“Hai hambaku! Aku telah menempatkan dosa dan maksiatmu diantara barokah dan rahmatKu, maka tidak akan dicata lagi bagimu dosa atau maksiat karena kehormatan bulan Rajab”. (Majalisul-Abrar)
Diceritakan bahwa bulan Rajab sesudah berakhir naiklah ia ke langit dan ditanya oleh Allah: “Apakah ia mencintaimu dan menghormatimu?” Lalu berkata si Rajab setelah Allah mengulangi pertanyaanNya yang kedua dan ketiga kalinya: “Ya Tuhanku! Engkaulah penutup segala aib dan memerintahkan hambaMu menutupi aib sesanya. RasulMu memberi julukan tuli padaku. Aku telah mendengar taat dan ibadah hamba-hambamu dan tidak mendengar maksiatnya”. Kemudian Allah SWT berfirman: “Engkau adalah bulanKu beraib dan hamba-hambaKu pula beraib. Aku telah terima mereka dengan segala aib-aibnya demi kehormatanMu sebagaimana Aku telah menerimamu dan aibmu dan dengan satu penyesalan Aku telah mengampuni mereka dan tidak mencatat maksiat-maksiatnya”.
Dikatakan bahwa bulan Rajab adalah bulan TULI, karena dalam bulan itu para malaikat yang bertugas mencatat amal-amal manusia, hanya mencatat amal-amal kebajikan dan tidaklah mencatat kejahatan dan maksiat berlainan dengan lain-lain bulan dimana kebajikan dan kejahatan dicatat bersamaan. Karena dalam bulan Rajab mereka tidaklah mendengar kejahatan atau maksiat yang dicatat. (Misykatul-Anwar)
Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Barang siapa bangun malam untuk ibadah pada malam pertama di bulan Rajab tidak akan mati hatinya jika hati-hati lain mati dan Allah menuangkan kebajikan di atas kepalanya, bebas dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya dan memberi syafaat kepada tujuh puluh ribu ahli maksiat yang sudah patut masuk neraka”. (Lubbul Albab)
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda:
“Barang siapa di suatu malam dari bulan Rajab bersembahyang dua puluh rakaat dengan membaca tiap-tiap rakaat surat Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas dan bersalam duapuluh kali, oleh Allah akan dilindungi dia dan keluarga serta anak-anaknya dari bala’ di dunia dan adzab di akherat”. (Zubdah)
Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya belan Rajab adalah bulan Allah yang tuli. Barang siapa dalam bulan itu berpuasa sehari penuh dengan penuh iman dan ikhlas, patut memperoleh ridha Allah yang terbesar dan barang siapa berpuasa dua hari tidak dapat digambarkan oleh langit dan bumi kemuliaan apa yang tersedia baginya di sisi Tuhan, dan barang siapa berpuasa tiga hari diselamatkan dari segala bala’ di dunia dan adzab di akherat dan dari penyakit gila, kusta, sopak dan dari fitnahnya Dajjal, dan siapa berpuasa tujuh hari tertutup baginya tujuh pintu neraka dan siapa berpuasa delapan hari terbuka baginya delapan pintu surga dan siapa berpuasa sepuluh hari segala apa yang diminta Allah akan memberinya dan siapa berpuasa limabelas hari diampuni oleh Allah segala dosanya yang telah lalu dan digantinya dengan kebajikan dan barang siapa menambah akan ditambahkannya pahala baginya oleh Allah”.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. bahwa Rosulullah bersabda:
“Selain bulan Ramadhan tidak ada puasa kecuali bulan Rajab dan Sya’ban”.
Menurut riwayat Buchari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya di surga ada suatu sungai bernama “Rajab”, warnanya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis dari madu. Brang siapa berpuasa sehari dalam bulan Rajab akan diberi minum oleh Allah dari sungai itu”.
Diriwayatkan bahwa Sayidian Abubakar ra. berkata:
Jika sepertiga malam telah lewat pada hari Jumat pertama dibulan Rajab, maka berkumpullah di Ka’bah semua malaikat yang berada di langit maupun di bumi dengan tiada ada yang ketinggalan. Disitu mereka dipandang oleh Allah dan mendengarkan firmanNya: “Hai MalaikatKu! Mintalah sesukamu!” “Ya Tuhan kami!, berkata para malaikat, “Permintaan kami ialah bahwa Tuhan mengampuni orang-orang yang berpuasa di bulanRajab”. “Aku telah mengampuni mereka”jawab Tuhan.
Pembaca yang budiman, bulan Rajab adalah bulan Allah. Maka marilah kita berlomba-lomba mendekatkan diri kepadaNya karena bulan ini adalah bulan yang agung nan mulia dimana Allah memberi banyak keistimewaan bagi hamba-hambaNya yang dengan penuh ikhlas menjalankan segala ibadah di bulan ini, yakni dengan menjalankan ibadah sunnah, berpuasa dan sholat di sepertiga malam terakhir. Demikian artikel ini semoga bermanfaat bagi kita dan mendapat syafa’at dari Allah .
_________
Penulis menghaturkan beribu-ribu terima kasih kepada:
Ibuku, Lutfiyah, yang telah banyak menghadiahi buku-buku Islami yang dahsyat dan menggetarkan jiwa .
H. M Arifin Madjid, S.H, juru dakwah masjid Tembok Indah Pasuruan, yang telah memberi banyak masukan dan referensi melaului kajian-kajiannya sehingga memperkaya pengetahuan keislaman penulis.
2 komentar:
akirnya,aku pengin juga ngasih komentar tulisan ini. Awalnya enggan banget. Tulisannya bagus sekali.Hanya ngasih beberapa catatan saja. Dari ta'lim yang kuikuti,hadist2 yang berkenaan dgn keutamaan amalan bulan Rajab itu kebanyakan hadist2 yang bermasalah. Ibnu Hajar Asqalani mengatakan hadist2 tentang bulan Rajab berjumlah 33 hadist. Dua puluh dua hadist masuk kategori hadist maudhu' (palsu) dan 11 lainnya termasuk hadist dhaif (lemah). Yang bikin aneh, tercantumnya nama Buchari dan Muslim dalam periwayatannya. Kubuka Riyadhus Shalihin Imam Nawawi, hasilnya hadist itu tidak ada. Menggunakan software hadist Buchari hasilnya nihil. Akhirnya aku tanya kawan yang ngetem di Tafsir Hadist UIN Sunan Kalijaga. Tiga hari kemudian baru dapat kabar. Namun sayang dia juga tidak mendapatkannya.
Bulan Rajab termasuk salah satu dari 4 bulan suci umat islam. Kebaikan pada bulan ini akan diganjar lipat ganda dari bulan-bulan lainnya. Pun begitu juga kejelekan. Yang menjadi masalah adalah amalan2 khusus pada bulan ini. Karena tidak ada dalil yang kuat tentang bentuk khusus amalannya, maka amalan yang dianjurkan diperbanyak ya amalan seperti bulan2 lainnya saja.
Jadi tidak ada shalat khusus sekian rakaat, bacaannya dan waktunya. Atau puasa khusus bulan Rajab sekian hari.
Terus ada lagi ( ga ada pada tulisan..) kekaprahan di masyarakat. Setiap akhir bulan Rajab tanggal 27, di kalender ada terblok merah dan keterangannya adalah Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad s.a.w. Ini sudah menjadi tradisi yang kuat di masyarakat kita walupun penentuan tanggal 27 itu masih perlu ditanyakan. Di buku Fiqhus Sirah Muhammad Al Ghazali tidak tercantum tanggal. Kitab kitab Sirah Nabawi yang lain ( yang ma'tsur) juga tidak ada. Berdasar fatwa Syech Shalih Al Utsaimin penentuan tanggal 27 itu juga tidak ada dasarnya. Meyakini terjadinya Isra' Mi'raj adalah wajib, tapi memastikan tanggal 27 Rajab adalah hal yang keliru.
Terus gimana ( lha wong sudah didapuk jadi panitia ee....) ?
Ya, itu tadi. Yakini kebenaran peristiwanya, abaikan saja tanggal peristiwanya.
Bukannya sok salafis aku nulis seperti ini. Cuman saling mengingatkan merupakan hal yang wajib bagi sesama muslim. Mungkin keliru, lupa atau belum tau.
Tapi yang pasti tulisannya bagus untuk mendorong amalan. Dalam keutamaan amal,menurut paham yang saya ikuti,ga apa2 koq hadist lemah digunakan asal ada Ayat al qur'an atau hadist kuat yang menjadi landasan amalnya.
Terima kasih. Afwan
Terima kasih komennya. Membangun sekali. menurut pendapat saya, memang benar kita perlu melihat apakah hadist itu lemah atau kuat. kACAMATA SATU ORANG DENGAN ORANG LAIN TIDAKLAH SAMA. Kenapa saya begitu PD mempublishkan hadist2 itu karena ada dukungan dari beberapa ustadz yang ilmu agamanya lebih dalam dari saya. Mereka juga menyampaikan hadist2 tersebut ketika saya mengikuti pengajian. In my opinion, saya tidak begitu mempertentangkan masalah hadist2 namun selama hadist2 itu mendekatkan diri kepada sang Khalik why not kita meyakininya. Selama itu tidak menentang keihksanan. Saya minta maaf bila jawaban kurang memuaskan namun pendapat akhi membuat saya lebih berhati-hati dalam menulis artikel islam lagi. Terima kasih banyak.
Posting Komentar