Pagi dan Matahari selalu menyapa
Malam dan Bintang selalu bercakap
Muara dan Lautan selalu bercengkrama
Embun dan Daun selalu berbicara
Namun cinta dan hati belumlah seirama
Mungkinkah hanya asa?
Yang membumbung tinggi di angkasa
Hingga sampai ke singgasana
Tak tau dimana kan bisa bertahta
Duhai Engkau yang bernama Cinta
Kapankah kau kan bersama?
Kapankah kau kan menjelma?
Kapankah kau kan bawa sejumput asmara?
Kapankah kau kan jawab segala doa?
Duhai Engkau yang bernama Cinta
Kapankah kau kan mengarah?
Kapankah kau kan datang menyapa?
Hapuskan hati yang hampa
Hiasi taman batin biar berbunga
Lukiskan hidup biar penuh warna
Obati segala luka
Temani segala langkah
Duhai Engkau yang bernama Cinta
Dimanakah kau berada?
Aku mencari kemana-mana
Hingga lelah bibirku bertanya
Hingga keluh lidahku berkata
Kapankah kau bersua?
______________
Bengkel Ilmoe_ku, Wednesday, July 16th , 2008 at 02.10 A.M
WAJAH BARU
-
Sudah lama wajahku usangSudah lama aku terpuruk dalam gegap gempita dunia
semuAku seakan lupa karuniaMuAmpuni akuTerimalah aku lagi sebagai
hambamuAku pers...
15 tahun yang lalu
2 komentar:
membaca judulnya aku jadi teringat novel Musafir Cinta karya Shamiroh binti Al Jazirah Al Arabiyah. Judul aslinya Qutrotun Min Ad Dumuu', tetesan air mata. Oleh penerbit diganti (dgn alasan tertentu) dengan Musafir Cinta. Mungkin biar bisa booming kalo pake kata cinta. kalo pake kata air mata kesannya sedih sehingga males baca. Ceritanya sedikit banyak mirip Laila Majnun (all author version). Khas Timur Tengah dan aroma padang pasirnya. Pergolakan jiwa, pemberontakan terhadap kejumudan istiadat sampai cinta yang terbelenggu. Harga diri dan kekayaan menjadi dinding penghalang cinta yang suci. Bedanya, setting waktu yang digunakan. Musafir Cinta lebih nampak konfliknya karena disetting pada jaman modern dengan kompleksitas problematikanya. Endingnya sama, kesedihan karena ditinggal kekasih.
Ga tau ya, novel Timur Tengah yang masuk ke Indonesia kayak gitu semua. Sampai2 Kang Abik bikin Ayat-Ayat Cinta yang ceritanya juga khas negeri sono. Serba mellow. Jadi ngelantur...
BTW, puisinya biiagus.
Sisipan 'ii' pada 'bagus' berarti 'sangat', menurut dialek Jogja. Dialek Surabaya sisipannya 'uu' jadi 'buuagus'.
Mencitrakan curahan kejujuran nurani yang pantang berdusta. Pokoke T.O.P dah !!
Thanks. sebenarnya aku bisa bikin puisi tapi selalu g bisa ngasih judul yg tepat.Kritik dan saran selalu ane perlukan:)
Posting Komentar