Minggu, Juli 08, 2007

IKHLAS CINTAKU

Suatu sore di kota Lumpur, seorang wanita setengah baya dan seorang gadis sedang berbincang di beranda melepas kerinduan yang amat sangat. Dalam perbincangan itu, wanita paruh baya bertanya kepada si gadis.
“Anakku, mana yang kau pilih, mencintai ataukah dicintai?” Tanya si wanita itu
“Ibu, banyak orang memilih dicintai daripada mencintai, tapi aku lebih memilih mencintai” jawab si Gadis.
“Apa alasanmu Nak?”
“Ibu, jika aku dicintai seorang laki-laki, namun aku tidak mampu membalas cintanya aku tidak tahu bagaimana cara membuat dia bahagia selain menyakitinya dan aku tidak tahu bagaimana mengobati luka di hatinya selain meminta maaf. Sebaliknya jika aku mencintai seorang laki-laki dalam hidupku tetapi dia tidak membalas cintaku, aku tahu bagaimana cara mengobati luka di hati ini”.
Wanita paro baya itu menatap dengan tatapan penuh kasih sayang. Lalu, dia bertanya lagi.
“Anakku, mana yang lebih kau pilih, menikah dengan orang yang kau cintai ataukah mencintai dengan orang yang kau nikahi?
“Ibu, banyak orang memilih menikah dengan orang yang kita cintai, namun aku lebih memilih mencintai dengan orang yang aku nikahi”
“Apa alasanmu, Nak?”
“Ibu, bila Allah memberi kesempatan kepadaku untuk menikahi dengan orang yang kucintai , itu adalah hadiah terindah yang Allah berikan kepadaku dan aku akan mengusahakan pilihan yang pertama. Namun, bila Allah menghendaki yang kedua, itu adalah anugerah terbesar dalam hidupku. Aku akan bersujud syukur kepadaNya karena pasti ada rencana yang lebih indah dariNya untukku dan kita tidak akan pernah tahu apa rencana-rencanaNya. Namun, aku percaya wanita baik untuk pria baik. Saat ini aku terus memperbaiki diri kelak aku pasti mendapatkan jodoh yang terbaik diantara yang terbaik”.
“Anakku, seandainya anak laki-lakiku belum memutuskan pilihannya, aku lebih memilihmu untuk menjadi menantuku”
Wanita paro baya itu menangis. Didekap erat si gadis dengan penuh kasih sayang. Si gadis berkata dengan penuh ketulusan. Mata mereka saling berpandangan.
“Ibu, kacamata Allah dan manusia tidaklah sama. Mungkin aku bukan yang terbaik untuk anak ibu. Meski aku tidak menjadi anak menantu Ibu, namun aku ada didekatmu bahkan lebih dekat dari urat nadimu. Aku ada dalam batinmu, aku ada dalam sujudmu, aku ada dalam doa-doamu seperti Nabi yang sering berlama-lama sujud karena mendoakan tujuh puluh sahabatnya”. Sampai kapan pun aku tetap anakmu dan engkau ibuku”.
Wanita paruh baya mencoba tersenyum. Dia belum siap merasakan kehilangan calon menantunya yang sangat ia sayangi. Mereka menangis bersama. Sungguh sangat indah sekaligus menyedihkan dan menyakitkan.
________________
Dedicated to seorang IBU yang sangat cantik hatinya. Kemarin, hari ini, lusa, esok, aku tetap merindukanmu. Aku ingin memeluk hangatnya tubuhmu, memandang paras ayumu, menyelami sinar indah matamu, memahami manisnya kata yang selalu keluar dari bibirmu yang bijak. Bila Allah memberi kesempatan kedua bagiku untuk bertemu lagi denganmu, akan kupeluk erat engkau dan aku tak ingin lepas darimu selamanya.